www.impiannesia.com - Rangkaian Pemakaman Ali Khamenei Berlangsung di Irak, Jenazah mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tiba di Bandara Internasional Najaf, Irak, pada Selasa (7/7/2026) malam waktu setempat. Prosesi pemakaman ini menjadi bagian dari rangkaian upacara yang telah berlangsung selama hampir sepekan di Iran. Jenazah Khamenei disambut oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian, sejumlah pejabat tinggi Iran, serta Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi.
Rekaman pesawat maskapai Iran Mahan Air yang membawa jenazah Khamenei juga disiarkan oleh media pemerintah Irak. Komite Tertinggi Pemakaman Ali Khamenei melaporkan bahwa seluruh persiapan logistik dan teknis untuk pelaksanaan prosesi pemakaman resmi maupun umum di Provinsi Najaf dan Karbala telah rampung.
Prosesi pemakaman dimulai di Najaf dengan membawa jenazah Khamenei menuju makam Imam Ali. Setelah itu, iring-iringan akan melanjutkan perjalanan ke Kota Karbala untuk berziarah ke makam Imam Hussein sebelum jenazah diterbangkan kembali ke Iran. Sementara itu, jenazah empat anggota keluarga Ali Khamenei yang juga menjadi korban perang telah lebih dahulu tiba di Karbala dan menjalani prosesi tawaf di sekitar makam Imam Hussein.
Massa Memadati Kota Najaf
Sejak Rabu dini hari, ribuan hingga jutaan warga Syiah memadati Kota Najaf untuk memberikan penghormatan terakhir. Massa memenuhi kawasan sekitar Bandara Najaf hingga jalur menuju kompleks makam Imam Ali sambil membawa bendera Iran, Irak, dan berbagai simbol kelompok perlawanan. Prosesi tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh asing. Salah satunya aktivis asal Irlandia Utara, Frank Hughes, yang mengaku datang sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan kelompok-kelompok yang disebut sebagai poros perlawanan di kawasan Timur Tengah.
Setelah seluruh rangkaian prosesi di Irak selesai, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan diterbangkan kembali ke Iran untuk dimakamkan pada Kamis (9/7/2026) di kota kelahirannya, Mashhad, berdampingan dengan kompleks makam Imam Ali al-Rida.
Rangkaian Pemakaman Berlangsung Sepekan
Prosesi pemakaman Khamenei telah dimulai sejak Jumat lalu di Teheran sebagai bagian dari masa berkabung nasional yang juga melibatkan sejumlah kota di Iran dan Irak. Hari pertama diisi penghormatan dari para pejabat tinggi negara, termasuk pimpinan tiga cabang pemerintahan Iran dan para komandan militer. Sejumlah petinggi militer bahkan tampil di depan publik untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pada Sabtu (4/7/2026), pemakaman dibuka untuk masyarakat umum dengan ribuan warga memadati kawasan Masjid Agung Teheran, sementara aparat memberlakukan pembatasan lalu lintas di berbagai titik ibu kota. Memasuki Minggu dan Senin atau 5-6 Juli, jumlah pelayat terus bertambah hingga mencapai ratusan ribu orang. Mereka membawa bendera Iran dan meneriakkan slogan-slogan yang mengecam Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.
Pada Selasa, ribuan warga juga berkumpul di Kota Qom sebelum jenazah diberangkatkan menuju Irak, kemudian jenazah Ali Khamenei akan dimakamkan di Mashhad, Iran.
Serangan AS Saat Prosesi Pemakaman
Di tengah rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei dan keluarganya, Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Senin (6/7/2026) malam waktu AS atau Selasa (7/7/2026) waktu Iran. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), operasi tersebut menargetkan lebih dari 80 fasilitas militer, lebih dari 60 kapal cepat Garda Revolusi Iran (IRGC), sistem pertahanan udara, radar, lokasi peluncuran drone, situs rudal antikapal, serta berbagai infrastruktur militer di Bandar Abbas, Pulau Kharg, dan wilayah selatan Iran.
Sebagai respons, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Rabu (8/7/2026) telah melancarkan serangan balasan terhadap 85 fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain dan Kuwait, menandai eskalasi terbaru di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman Ali Khamenei.
Latar Belakang Perang AS-Israel VS Iran
Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington bersama Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran menyusul gagalnya perundingan nuklir di Jenewa. Amerika Serikat dan Israel menuduh Teheran mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk penelitian ilmiah dan pengembangan energi sipil.
Konflik semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Di tengah kondisi keamanan yang masih bergejolak, kepemimpinan Iran kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.
Eskalasi konflik berlanjut ketika Hizbullah membuka front pertempuran dari Lebanon. Israel kemudian membalas dengan serangan udara yang menargetkan Beirut dan sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Setelah hampir 40 hari pertempuran, Pakistan berhasil memfasilitasi perundingan yang berujung pada kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut membuka kembali jalur komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran.
