www.impiannesia.com - Taukah kalian Sejarah dan Perkembangan Muhammadiyah di Jakarta dahulu. Meskipun mayoritas masyarakat Betawi dalam keislamannya berpaham Ahlussunnah Wal Jamaah Asy - Syafiiyyah, tidak semua orang Betawi mengikuti paham tersebut. Ada sebagian dari mereka yang memilih untuk bergabung dengan organisasi keislaman seperti Muhammadiyah. Salah satu contohnya adalah Prof H Agus Suradika, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi DKI Jakarta. Ia adalah putra asli Betawi yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jakarta.
Awal kehadiran Muhammadiyah di Jakarta dapat ditelusuri kembali ke tahun 1920. Saat itu, KH Ahmad Dahlan dalam perjalanannya ke Tanah Suci singgah terlebih dahulu di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, pada pukul 02.00 pagi, di atas jalan kereta api Tanah Tinggi, wilayah Senen, KH Ahmad Dahlan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan beberapa orang, seperti Kartosudarmo, Soewito, Sardjono, dan Wirjosudarmo yang kemudian dikenal sebagai pelopor berdirinya Muhammadiyah di Jakarta.
Sebelum pertemuan tersebut, beberapa perintis Muhammadiyah Cabang Jakarta sudah pernah melakukan kontak dengan KH Ahmad Dahlan, baik melalui korespondensi maupun pembelajaran langsung. Namun, pertemuan di Jakarta kali ini memiliki makna sejarah. Setelah bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, semangat Muhammadiyah mulai berkobar di hati para angkatan perintis.
Berdirinya cabang Jakarta ini kemudian disahkan oleh Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta melalui surat ketetapan No 10 b tanggal 1 Juli 1928. Artinya, baru tujuh tahun setelah awalnya didirikan, cabang Jakarta resmi diakui oleh pusat.
Langkah awal Muhammadiyah dalam memperkenalkan diri di Jakarta dilakukan melalui kegiatan tabligh dan pengajian, serta pendidikan. Tahun 1923, untuk pertama kalinya, Muhammadiyah Cabang Jakarta membuka sekolah Kweekschool di Gang Kenari (Jakarta Pusat), yang dipimpin oleh R Hidajatullah. Murid - muridnya kebanyakan berasal dari luar Jawa, seperti Bengkulu, Liwa, Baturaja, Menggala, Palembang, Lahat, dan lain - lain. Mereka menjadi kader dan pelopor berdirinya cabang - cabang Muhammadiyah di Sumatra Selatan.
Dalam perjalanan Muhammadiyah, bidang pendidikan selalu menjadi fokus utama. Beberapa sekolah dasar telah didirikan, termasuk di Kebayoran Baru. Bahkan, Sekolah Algemene Middelbare School (AMS) yang berlokasi di Jalan Kramat Raya 49 sangat terkenal sewaktu di bawah pimpinan Ir Djuanda dan Mr Maria Ulfa. Berdirinya sekolah - sekolah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil memberikan manfaat kepada masyarakat, terutama bagi anak - anak yang tidak bisa diterima di sekolah lain.
Meski Muhammadiyah di Jakarta telah menunjukkan eksistensinya, pada awal kehadirannya banyak mendapat fitnah dan buruk sangka dari masyarakat Jakarta. Pada masa itu, sekitar sembilan puluh persen masyarakat Jakarta anti - Muhammadiyah. Hal ini wajar karena masyarakat Islam di Jakarta, khususnya Betawi, biasanya berpegang teguh pada tradisi dan praktik keagamaan yang berbeda dari Muhammadiyah. Misalnya, shalat Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan di lapangan, bukan di masjid; shalat Tarawih sebelas rakaat dan shalat Subuh tanpa qunut.
Namun, kecaman dan hasutan itu sedikit demi sedikit berkurang seiring dengan keberhasilan Muhammadiyah dalam mengembangkan amal usaha, baik dalam bidang tabligh, pendidikan (dari TK hingga perguruan tinggi), kesehatan, maupun kegiatan sosial keagamaan lainnya. Keberhasilan ini menarik perhatian sebagian orang Betawi, terutama dalam bidang pendidikan.
Banyak orang Betawi menyekolahkan anak - anaknya ke sekolah Muhammadiyah, baik di Jakarta maupun luar Jakarta. Contohnya, KH Abdul Manaf Mukhayyar, ulama Betawi dan tokoh pendidikan, berhasil mendirikan Pondok Pesantren Darunnajah yang tersohor di nusantara hingga Asia Tenggara. Ia juga menyekolahkan putrinya ke Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta, yang merupakan sekolah calon pemimpin Muhammadiyah untuk putri.
Selain itu, KH Abdul Mafahir, ulama asli Betawi di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat, menyelesaikan kuliah S2 nya di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Beberapa kawan saya yang putra Betawi juga sekolah di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, yang merupakan sekolah calon pemimpin Muhammadiyah untuk putra.
Kiprah Muhammadiyah di Jakarta, di tanah Betawi, telah memberikan pelajaran berharga bahwa dakwah dengan kerja nyata dan memberikan manfaat akan mengubah rasa anti menjadi simpati. Dibandingkan dengan dakwah yang hanya bersifat gaduh atau seremonial, serta diisi dengan perdebatan dan penyerangan terhadap paham keislaman orang lain, dakwah Muhammadiyah lebih efektif dalam menciptakan perubahan.
