Respons Amerika Serikat terhadap Uji Coba Rudal Balistik China. Pada bulan Juli 2024, Amerika Serikat memberikan respons terhadap uji coba rudal balistik yang dilakukan oleh Tiongkok. Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa uji coba tersebut merupakan perkembangan yang "sangat mengkhawatirkan" bagi kawasan Asia dan dunia secara keseluruhan. Uji coba ini menunjukkan kemampuan China dalam mengembangkan senjata nuklir yang bisa dioperasikan dari kapal selam.
Pernyataan Departemen Luar Negeri AS
Departemen Luar Negeri AS pada Senin (6/7) mengeluarkan pernyataan yang mendesak China untuk menahan laju proliferasi senjata nuklir. Mereka juga menegaskan komitmen Washington terhadap pertahanan sekutu-sekutunya. Menurut pernyataan tersebut, percepatan pengembangan senjata nuklir Beijing yang tidak transparan sangat mengkhawatirkan.
Dilaporkan bahwa angkatan laut Tiongkok berhasil meluncurkan rudal strategis dari kapal selam bertenaga nuklir menuju perairan lepas Samudera Pasifik. Rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan. AS memantau peluncuran rudal balistik antarbenua tersebut hingga jatuh di kawasan selatan Samudera Pasifik.
Washington juga meminta China untuk terlibat dalam pembahasan pengendalian senjata yang lebih bermakna serta berkomitmen menerapkan mekanisme pemberitahuan rutin mengenai peluncuran rudal maupun wahana antariksa. Pernyataan ini dikeluarkan setelah sejumlah negara seperti Australia dan Jepang juga menyampaikan keprihatinan mereka atas peluncuran tersebut.
Perkembangan Terkini
Respons AS itu muncul ketika Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping berupaya menstabilkan hubungan bilateral di tengah persaingan geopolitik yang masih berlangsung. Setelah kunjungan Trump ke Beijing pada pertengahan Mei, Xi dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Keduanya sepakat bertemu di Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Meskipun AS mengklaim telah memantau uji coba tersebut, mereka tidak menjelaskan apakah Washington telah menerima pemberitahuan sebelumnya. Sementara itu, Pemerintah China menyatakan bahwa uji coba tersebut merupakan bagian dari latihan militer tahunan dan tidak ditujukan kepada negara tertentu. Mereka juga menegaskan bahwa rudal tersebut jatuh tepat di wilayah perairan yang telah ditentukan serta seluruh pelaksanaan uji coba dilakukan sesuai hukum internasional.
Perspektif Media Tiongkok
Surat kabar Global Times, yang diterbitkan oleh People's Daily, menulis tajuk rencana dengan judul "Semakin Kuat Kekuatan Nuklir Strategis China, Semakin Terjamin Perdamaian Kawasan." Media tersebut menyebut kemampuan nuklir China telah mencapai tonggak penting dan mengingatkan bahwa uji coba serupa terakhir dilakukan pada 2024.
Global Times juga mengutip pandangan sejumlah pakar yang meyakini rudal yang diuji adalah JL-3, yang pertama kali diperkenalkan dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu. Rudal baru ini disebut memiliki jangkauan lebih dari 10.000 kilometer, sehingga mampu menjangkau sebagian wilayah daratan Amerika Serikat jika diluncurkan dari perairan pesisir China.
Analisis Ahli Pertahanan AS
Lyle Morris, mantan pejabat pertahanan AS yang kini menjadi peneliti senior di Center for China Analysis, Asia Society Policy Institute, menilai uji coba tersebut sebagai perkembangan penting dalam kemampuan nuklir China. Ia menyatakan bahwa uji coba dengan jangkauan seperti ini merupakan perkembangan besar dan menunjukkan bahwa China sedang membangun kemampuan penangkalan nuklir berbasis laut yang lebih mampu bertahan dan memiliki jangkauan lebih jauh.
Morris memperkirakan rudal tersebut jatuh di kawasan timur laut Kepulauan Solomon. Hal ini menunjukkan bahwa China semakin meningkatkan kemampuan militer mereka, terutama dalam hal pengembangan rudal balistik.
